People Innovation Excellence

Sinergi Newsroom TV: Hilangnya Keragaman

Pemirsa berita dan infotaiment di televise sekarang sering melihat seorang reporter yang tampil di lebih dari satu TV.  Berita yang diliput reporter SCTV  tayang di Liputan 6 SCTV dan juga Fokus Indosiar. Hasil liputan reporter MNC Media tayang di RCTI, MNC TV, Global TV dan I News. Dalam tayangan infotaiment juga sama. Sebuah liputan tentang kegiatan seorang artis yang dilakukan oleh satu tim dari sebuah production house ( PH ) seperti Bintang Advis Media, tayang di Indosiar dalam Hot Kiss dan RCTI dalam Cek & Ricek. Begitu juga liputan gossip artis yang dilakukan PH Sandika Widya Cinema, atau Creative Indigo  tayang dalam acara-acara infotaiment di RCTI seperti Intens, Silet, Kabar-kabari; di SCTV muncul dalam Hot Shot; di  Trans TV tayang dalam Insert Selebriti.

Pertanyaannya mengapaTV seperti Indosiar, SCTV, RCTI, Global TV,MNC TVdan INews melakukanhal seperti disebutkan di atas?  Apa yang terjadi dengan pemberitaan di tv tersebut? Jawabannya tv-tv tersebut sedang atau telah melakukanSINERGI Newsroom atau sinergi dalam mengelola ruang pemberita. Sinergi Newsroom adalah menggabungkan dua atau lebih ruang redaksi menjadi satu dibawah satu manajemen redaksi.  Jika sebelum bersinergi newsroom Indosiar dan SCTV berdiri sendiri, ketika bersinergi maka newsroom ny menjadi satu di bawah satu manajemen, termasuk di dalamnya hanya ada satu orang pemimpin redaksi yang memimpin redaksiLiputan 6 SCTV dan redaksi FokusIndosiar.

Sinergi Newsroom ini adalah ujud nyata dari berkumpulnya TVdalam kelompok- kelompok bisnis atau dalam bahasa lain dalam konglomerasi media TV. Seperti diketahui bersama, SCTV dan Indosiar berada dalam satu kelompok bisnis EMTEK Group. RCTI, Global TV dan MNC TV berada dalam satu kelompok bisnis MNC Media. Trans TV dan TV 7 berada dalam kelompok bisnis Trans Media. ANTV dan TV One di bawah kelompok media Viva Media.

Maksud dan tujuan dari sinergi newsroom adalah untuk efisiensi dalam menggunakan sumber daya yang dimiliki sebuah newsroom. Tujuanya untuk penghematan dalam pembiayaan newsroom. Sebuah hasil liputan akan lebih efisien jika bisa ditayangkan di lebih dari satu tv karena akan membuat ongkos liputan menjadi lebih murah. Liputan tentang operasi tangkap tangan KPK terhadap anggota DPR DewiYasinLimpo yang dilakukan tim peliput SCTV misalnya, biayanya menjadi lebih murah karena hasilnya ditayangkan di Liputan 6 dan Fokus. Sebab  biaya peliputan yang dikeluarkan dibagi dua antara Liputan 6 danFokus.

Produksi Berita tetap terpisah

Model sinergi newsroom anatara satu kelompok bisnis media dengan kelompok bisnis media yang lain bisa berbeda-beda.  Sebab sejauh ini belum ada aturan dan panduan yang baku dalam melakukan sinergi newsroom. Model dan bentuknya disesuaikan dengan kepentingan dan tujuan masing-masing kelompok bisnis media. Apapun model sinergi yang dipilih, tujuannya adalah untuk efisiensi dan penghematan biaya.

Dalam kasus Indosiar dan SCTV, sinergi newsroom yang dilakukan adalah: Pertama; pemimpin redaksi dipegang satu orang membawahi Liputan 6 dan Fokus Indosiar. Bahkan pemimpin redaksi Liputan 6 dan Fokus, juga menjadi pemimpin redaksi Liputan 6.com, situs media online. Kedua; melebur tim peliputan atau news gathering ( reporter dan  camera person) di bawah satu manajemen pengelolaan peliputan yang dikendalikan satu koordinator peliputan atau korlip. Artinya korlip hasil sinergi memimpin timpeliputan yang bekerja untuk Liputan 6 dan Fokus. Mereka melakukan peliputan tidak lagi atas namaLiputan 6 atau Fokus tetapi atas nama dua media sekaligus Liputan 6 dan Fokus.  Hasilnya akan ditayangkan di program berita yang ada di SCTV yaitu Liputan 6, dan Buser, dan yang ada di Indosiar yaitu program Fokus dan Patroli.

 Ketiga; melebur tim koresponden peliputan di daerah dalam satu manajemen pengelolaan di bawah koordinator daerah atau korda. Sama dengan tim peliputan di Jakarta, para koresponden di daerah juga bekerja meliput berita untuk dua tv sekaligus yaitu Liputan 6 dan Fokus. Keempat; menggunakan satu system newsroom yang sama baik untuk proses peliputan ( news gathering ) maupun proses produksi berita ( editing, penyimapan hasil editing, sampai menyiarkan hasilnya dalam tayangan ) dalam satu ruangan yang sama.  Kelima; menggunakan satu server yang sama untuk menyimpan hasi lpeliputan baik tim peliputan di Jakarta maupun di daerah. Jadi sinergi newsroom dilakukan dalam  proses pencarian berita dan penggunaan fasilitas dan sarana pendukung untuk membuat berita.

Model sinergi dengan peleburan tim peliputan juga dilakukan di MNC Media yang membawahi RCTI, GLOBAL TV, MNC TV dan INews. Tim peliputan dibawa kendali MNC Media, yang hasil peliputannya ditayangkan di RCTI, GLOBAL TV, MNC TV dan Inews. Bahkan untuk MNC Media hasilnya juga ditayangkan dalam saluran berita yang ada di tv berbayar yang masih satu group yaitu Indovision

Dalam sinergi newsroom tidak semua bagian digabung atau dilebur. Tetap ada bagian-bagian dalam newsroom Liputan 6 dan Fokus atau newsroom RCTI, Global TV, MNC TV dan INews yang tetap terpisah atau berdiri sediri. Dalam kasus Liputan 6 dan Fokus bagian yang tidak digabung adalah bagian produksi berita atau bagian yang bertanggung jawab untuk mengolah hasil liputan dari tim peliput menjadi materi berita yang akan ditayangkan di layar tv. Yang ada di bagian produksi berita adalah produser program berita di masing-masing TV. Kalau di Fokus ada produser Fokus Sore, Fokus Pagi, Fokus Malam, Patroli, Patroli Malam, Halo Polisi, dan Fokus Kasus. Di Liputan 6 ada produser Liputan 6 pagi, Liputan 6 siang, Liputan 6 Petang, Liputan 6 Malam, Buser, dan Sigi.

Pemisahan bagian produksi berita ini dilakukan agar ada perbedaan dalam pengolahan, pemilihan dan pengemasan berita yang akan ditampilkan dilayar. Sebab program berita di masing-masing televisi memiliki ciri, karekter dan kekhasan masing-masing yang disesuaikan dengan identitas dan segmentasi televisinya.  Penonton Liputan 6 secara demografis berbeda dengan penonton Fokus. Dengan penonton yang berbeda-beda, seorang produser program berita harus berpikir dan berkreasi dalam memilih, mengolah dan mengemas berita untuk ditayangkan dilayar agar sesuai dengan demografi penontonnya. Jika dianalogikan, seorang produser adalah koki yang akan memasak makanan dari bahan-bahan yang dicari atau dibeli oleh para reporter atau tim peliputan.  Bahan berita bisa sama, tapi di tangan koki yang berbeda akan menghasilkan tampilan, sajian dan kemasan berita yang berbeda.

Selain produser, yang juga dipisah dalam sinergi newsroom adalah presenter berita. Pemisahan dilakukan karena presenter berita adalah ikon, identitas dan representasi program berita sebuah televisi.  Penonton program tv akan bingung jika ada satu presenter pagi hari on air di Liputan 6, siangnya di Fokus Sore. Presenter adalah bagian dari kemasan berita yang membedakan antara di satu tv dengan di tv lain.

Dampak Sinergi

Secara ekonomis, dampak sinergi newsroom adalah  penghematan biaya operasional yang akan menguntungkan perusahaan. Sumber daya yang ada baik peralatan maupun manusia bisa dimaksimalkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan lebih dari satu TV. Berita yang dibeli dari koresponden di daerah seharga 300 ribu rupiah per berita, nilainya menjadi lebih murah jika ditayangkan di dua TV dibandingkan hanya tayang di satu TV. Hasil akhir dari sinergi newsroom dari sisi ekonomis adalah turunnya biaya operasional dalam pencarian berita atau newsgathering.

Selain memiliki dampak positif, sinergi newsroom bisa berdampak negatif atau merugikan Dampak negative atau merugikan dari sinergi newsroom adalah; Pertama; tidak adanya keragaman, atau keberanekaan dalam pemberitaan.  Yang muncul atau terjadi dalam sinergi newsroom adalah keseragaman pemberitaan.  Keseragaman ini sebagai konsekuensi logis dari dileburnya tim peliputan atau news gathering.  Yang membedakan dalam tayangan berita di masing-masing tv dalam satu sinergi newsroom hanyalah kemasan, tampilan berita di layar. Sedangkan substansi, isi dan isu berita yang disajikan sama karena bahan beritanya sama.  Tidak akan muncul sudut pandang atau perspesktif berbeda dari sebuah peristiwa karena yang meliput sama.

Keadaan ini bagi pemirsa berita di televisi sangat merugikan.  Penonton tidak akan mendapatkan informasi yang berbeda, atau sudut pandang yang berbeda dari sebuah peritiswa.  Liputan tentang kabut asap di Pekanbaru Riau yang tayang di Liputan 6, Fokus sudut pandang dan perspektifnya sama karena dilakukan satu koresponden. Berita tentang satu tahun pemerintahan Jokowi-JK yang tayang di RCTI, Global TV, MNC TV dan INews sudut padang dan perspektifnya sama karena peliputnya satu tim atas nama MNC Media. Akan berbeda keadaannya jika masing masing newsroom berdiri sendiri.  Tiap-tiap newsroom pasti akan mencari sudut pandang, perspektif yang berbeda dengan tv lain. Sudut pandang akan disesuaikan dengan karakter demografis penonton tv nya.

Jadi walaupun di Indonesia ada banyak TV, tetapi dengan adanya sinergi newsroom,  jumlah keragaman beritanya tidak sama dengan jumlah tv yang ada.  Jumlah keragaman beritanya hanya akan sebanyak jumlah kelompok media yaitu MNC Media, Emtek, Trans Media, Viva Media ditambah tv-tv yang belum mengelompok seperti Kompas TV, Metro TV, Rajawali TV.

Kedua; berkurangnya persaingan.  Dengan sinergi newsroom secara tidak langsung akan mengurangi semangat bersaing dengan tv yang berada dalam satu kelompok.  Yang terjadi adalah kerja sama. Persaingan hanya terjadi dengan kelompok media lain, sehingga jumlah pemain yang bersaing menjadi berkurang. Seandainya tidak ada sinergi maka jumlah newsroom akan banyak sehingga persaingan makin ketat. Untuk bisa memenangkan persaingan, tiap-tiap newsroom akan menyajikan karya yang terbaik untuk memuaskan pemirsa.  Dengan makin berkurangnya jumlah newsroom, maka tingkat persaingan menjadi lebih sedikit.

Ketiga;  berkurangnya lapangan pekerjaan. Dengan adanya peleburan atau penyatuan bagian-bagian dalam newsroom sebagai dampak logis sinergi newsroom, maka akan mengurangi lapangan pekerjaan. Sebab kebutuhan tim peliputan otomatis berkurang, atau tidak sebanyak jika masing-masing newsroom berdiri sendiri. Salah satu contoh nyata yang berkurangnya kebutuhan tenaga kerja akibat adanya sinergi newsroom adalah berkurangnya kebutuhan reporter, camera person dan koresponden daerah.  Untuk meliput kegiatan presiden di Istana Negara,  hanya perlu satu tim peliputan, satu reporter dan satu camera person. Hasilnya ditayangkan di dua atau lebih tv. Jika belum ada sinergi, tiap-tiap tv akan mengirimkan tim liputan sendiri-sendiri. Begitu juga dengan kebutuhan koresponden di daerah. SCTV dan Indosiar kini hanya perlu satu koresponden untuk satu daerah atau satu kabupaten.  Saat belum sinergi, di tiap daerah masing-masing tv memiliki satu koresponden. Jika ada 60 kabupaten/kota, sebelum bersinergi Indosiar dan SCTV masing memiliki 60 koresponden sehingga total koresponden ada 120.  Setelah sinergi, maka koresponden yang dibutuhkan hanya 60.  Contoh lain apa yang terjadi di RCTI, GLOBAL TV dan MNC TV.  Jika masing-masing newsroom dalam MNC group berdiri sendiri, maka kebutuhan koresponden untuk 60 daerah adalah 180.  Tetapi karena sudah sinergi, yang dibutuhkan hanya 60 koresponden dibawah kendali INews.  Jika RCTI, GLOBAL TV dan MNC TV akan menggunakan berita dari koresponden hanya tinggal mengambil dari INews.

Keempat; selain kebutuhan tenaga kerja yang berkurang, sinergi newsroom juga membuat kebutuhan akan peralatan pendukung peliputan seperti kamera dan perlengkapan liputan lainnya, mobil SNG, mobil operasional juga  berkurang. Ini memang sejalan dengan berkurangnya jumlah tim peliputan yang berkurang akibat dilebur atau digabung.

Kelima;  Dampak negative lain dari sinergi newsroom adalah menyangkut agenda setting dan control berita dari pemilik. Seperti diketahui bersama, dalam agenda setting menjadikan pemberitaan tidak semata-mata sarana untuk mewartakan peristiwa.  Tetapi di dalam pemberitaan ada strategi dan kerangka yang dimainkan media sehingga memiliki nilai lebih yang diharapkan media.  Atau dalam bahasa sederhana, ada maksud tertentu yang ingin dicapai media melalui pemberitaan.  Biasanya masing-masing newsroom mempunyai agenda setting yang berbeda-beda, tergantung dari kepentingan medianya. Dengan adanya sinergi newsroom, agenda setting yang dimainkan menjadi tidak sebanyak kalau masing-masing newroom beridiri sendiri. Dampaknya, sebuah isu bisa muncul di banyak berita tv, terutama yang berada dakan satu newsroom.  Satu isu yang diliput oleh MNC Media misalnya, akan muncul di RCTI, GLOBAL TV, MNC TV dan INews.

Sejalan dengan agenda setting, dengan adanya sinergi newsroom, control pemilik TV terhadap pemberitaan semakin mudah.  Pemilik hanya perlu memerintahkan kepada satu newsroom hasil sinergi, tapi hasilnya akan tayang di semua TV yang ada dalam sinergi.  Saat belum bersinergi, pemilik harus memberikan perintah kepada semua newsroom dalam kelompok bisnis medianya untuk menayangkan atau tidak menayangkan sebuah berita.

ArahKedepan:

Walaupun sekarang group media yang memiliki lebih dari satu tv belum semuanya melakukan sinergi newsroom, tampaknya hanya tinggal tunggu waktu sinergi newsroom akan dilakukan semua group media yang memiliki lebih dari dua tv.  Sebab dalam kacamata bisnis, penghematan dan efisiensi adalah hal yang akan dan harus dilakukan. Apalagi di tengah kompetisi tv swasta yang demikian ketat, efisiensi menjadi langkah yang harus diambil untuk bisa bersaing san bertahan.

Pertanyaan yang kemudian muncul seperti apa bentuk sinergi newsroom yang akan dilakukan?  Saat ini bentuknya memang masih berbeda beda. Indosiar dan SCTV walaupun sudah ada peleburan tetapi terjadi hanya pada tataran operasional kerja newsroom.  Secara administrasi kepegawaian masih tepisah. Kondisi seperti ini menjadi kurang ideal karena walaupun berada dalam satu kelompok bisnis, tetapi aturan dan kultur perusahaan berbeda. Akibatnya akan menjadikan sinergi newsroom kurang optimal.  Idealnya peleburan bukan hanya pada tataran operasional kerja saja tetapi juga pada tatatan administrasi kepegawaian agar menjadi lebih optimal sinerginya.

Jika sinergi yang dilakukan adalah peleburan total baik administrasi kepegawaian maupun operasional pekerjaan, maka bentuk sinergi newsroom yang akan muncul adalah membentuk perusahaan baru atau production house (PH) yang secara khusus menghasikan program program berita. Pegawainya atau orangnya adalah hasil penggabungan daru dua pegawai newsroom sebelum dilebur. Dengan membentuk PH hasil sinergi dua newsroom akan membuat kerja lebih optimal karena sudah berada dalam satu perusahaan. Tidak lagi perbedaan, baik dalam aturan maupun kebudayaan kerja. Tampaknya model membentuk PH berita inilah yang akan menjadi model sinergi newsroom ke depan. Apalagi sekarang ini sudah ada model atau contoh yaitu PH yang memproduksi infotaiment atau berita seputar kegiatan artis. Produk PH tersebut ditayangkan di berbagai TV. Jadi bukan tidak mungkin nanyi akan muncul PH berita yang produknya tayang di Indosiar dan SCTV mungkin juha O Chanel. PH yang dibentuk tersebut awalnya adalah hasil sinergi newsroom Liputan 6 dan Fokus. Nanti juga ada PH yang memproduksi berit yang akan tayang di RCTI, GLOBAl TV, MNC TV dN INews.

Selain sudah ada contoh PH infotaiment, sebetulnya beberapa tv seperti RCTI dan Indosiar pernah membentuk PH untuk membuat tayangan berita. RCTI membentuk PT Sindo yang memproduksi atau menghasilkan tayangan betita Seputar Indonesia. Indosiar dan Kompas berpatungan membentuk PH berita INDOMEDIA WARTATAMA yang produk berupa program berita Fokus tayang di Indosiar. Tetapi karena kemudian ada aturan kalau berita tidak boleh dibuat atau diproduksi oleh PH maka PT Seputar Indonesia san PT Indomedia dibubarkan. Reporter, kameramen semua pendukung produksi berita lainnya digabung atau dilebur dengan stasiun TV. PT Sindo dan Indomedia akhirnya menjadi bagian organik dari RCTI san Indosiar.

Pertanyaan penutup yang perlu jadi bahan pemikiran bersama adalah apakah akan muncul kemnali PH PH berita sebagI bentuk sinergi newsroom? Tampaknya sejarah memang berputar. Dulu dilarang kini diperbolehkan.

Kita tunggu apa yang akan terjadi.

Muslikhin (D5394)


Published at : Updated
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close